PENDIDIKAN KARAKTER SEBAGAI LANGAKAH AWAL PENCEGAHAN PLAGIARISME
Plagiat merupakan suatu bentuk kecurangan yang akhir-akhir ini banyak
terjadi dikalangan masyarakat terutama didalam bidang akademis. Tidak hanya
mahasiswa, para guru besar pun pernah ada yang melakukan hal ini. Tuntutan agar
bisa menghasilkan suatu karya ilmiah, mengerjakan tugas dan skripsi, membuat
pihak terkait mengambil jalan pintas dengan menjiplak hasil karya orang lain. Pada
dasarnya, plagiat atau plagiarism adalah Plagiat adalah mencuri gagasan, kata-kata,
kalimat atau hasil penelitian orang lain dan menyajikannya seolah-olah sebagai karya
sendiri.
Plagiarisme bisa terjadi karena tidak hanya karena ada niat dari pelaku,
melainkan karena adanya kesempatan dan perkembangan teknologi yang luas,
sehingga pengaksesasn data mudah untuk dilakukan. Terdapat beberapa jenis atau
tipe plagiarism, antara lain:
1. Copy & Paste adalah Plagiarisme. Setiap kali kita akan mengangkat/mengutip
sebuah anak kalimat atau paragrap utuh dari sumber, maka kita harus
menggunakan tanda kutipan dan memberikan referensi sumber
2. Mengganti dengan bahasa sendiri adalah Plagiarisme. Jika kita mengambil
sebuah kalimat dari sumber dan melakukan perubahan beberapa kata atas
kalimat itu, hal ini masih dikatakan plagiarisme. Jadi jika kita ingin mengutip
sebuah kalimat, maka kita harus meletakkannya dalam tanda kutip dan
mengutip penulis dan dari mana artikel itu didapatkan. Tapi kebanyakan orang
mengutip artikel, tanpa menyertakan sumber utama artikel. Mengutip harus
dilakukan apabila ada hubungan manfaat antara kutipan kata ini dengan
kalimat yang kita tulis, terutama manfaat ini terasa ketika dibaca berulangulang.
Dalam banyak kasus, untuk menghindari pengutipan semacam ini,
lebih baik kita mengutip langsung dari sumber-sumber asli. Hal ini adalah
pilihan yang lebih baik.
3. Mengikuti gaya penalaran kutipan adalah Plagiarisme. Ketika kita mengikuti
sebuah sumber kalimat demi kalimat atau paragraf demi paragraf, itu adalah
tindakan plagiarisme, meskipun tak satu pun dari kalimat kita yang persis
sama seperti yang ada di artikel atau sumber, bahkan urutan yang berneda juga. Jadi dengan demikian, dalam kasus ini kita sudah menyalin gaya
penalaran penulis.
4. Penulisan Metafora adalah Plagiarisme. Penulisan metafora biasanya
digunakan baik untuk membuat lebih jelas ide atau memberikan pembaca
sebuah analogi yang menyentuh indera atau emosi lebih baik, dengan adanya
gambaran yang jelas dari objek atau proses Metafora itu sendiri. Kemudian
juga mengikuti bagian penting dari gaya kreatif si penulis tersebut. Jika kita
tidak bisa membuat kalimat sebagus metafora si penulis (sumber), sebaiknya
kita datang dengan penulisan metafora si penulis untuk dapat menggambarkan
ide penting yang ada pada tulisan, oleh karena itu apabila ingin berlaku
demikian, kita harus mencantumkan secara penuh kredit penulis untuk sumber
itu.
5. Mengikuti Ide penulis adalah Plagiarisme. Jika kita menulis sebuah artikel
dengan mengikuti sumber dalam mengungkapkan ide kreatif atau
menyarankan solusi untuk suatu masalah pembaca, maka ide atau solusi harus
jelas dikaitkan dengan penulis sebenarnya. Banyak mahasiswa yang
tampaknya kesulitan untuk membedakan mana yang kalimat gagasan (ide)
dan / atau solusi dari informasi yang disajikan penulis . Gagasan informasi
umum adalah setiap ide atau solusi mengenai sesuatu yang orang di lapangan
menerima sebagai pengetahuan umum dan meberikan makna tersendiri bagi
mereka. Namun, ide baru tentang bagaimana untuk mencari solusi dari
informasi itu perlu dikaitkan dengan penulis sebenarnya sebagai literatur
Selama mengikuti pembelajaran Pendidikan kewarganegaraan selama 12 kali
pertemuan di Universitas Airlangga, secara pribadi saya mendapatkan banyak sekali
hal-hal berguna. Pada setiap pertemuan, dosen mata ajar pendidikan kewarganegaraan
saya, pak Adib, selalu berusaha untuk menumbuhkan sikap nasionalisme pada
mahasiswanya. Menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mengheningkan Cipta
contohnya, selain diminta untuk bersikap sempurna saat menyanyikannya, sebenarnya
menurut saya, bukan bagaimana sikap kita dalam menyanyikannya lagu tersebut yang
diharapkan oleh pak Adib, melainkan bagaimana kita menghayati apa yang ada didalam lagu tersebut, bagaimana kita bisa belajar untuk mecintai Negara kita sendiri,
dan bagaimana kita bisa menghargai lagu kebangsaan kita sendiri.
Disetiap akhir pertemuan perkuliahan, pak Adib juga selalu memberikan suatu
cerita, perumpaman, maupun sebuah kutipan yang dimaksudkan untuk menumbuhkan
kepribadian mahasiswanya yang merupakan tujuan awal dari pendidikan
kewarganegaraan. Hal in membuktikan bahwa metode pembelajaran yang beliau
berikan tidak hanya bagaimana hard skill kita dikembangkan, melainan soft skill yang
nantinya akan lebih diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat, sebab yang sedang
dicari oleh mahasiswa seperti saya adalah sebuah jati diri. Penanaman karakter yang
baik yang dilakukan oleh beliau merupakan salah satu cara untuk menghindakan kami
sebagai mahasiswa untuk melakukan tindakan yang menyimpang, apalagi dalam
setiap pertemuannya selalu di tegaskan bahwa Airlangga adalah universitas dengan
slogannya Excellent with morality. Dimana yang diharapkan oleh universitas pada
alumnusnya nanti tidak hanya pintar saja melainkan juga harus bermoral.
Pada salah satu pertemuan yang membahas pendidikan anti korupsi, kebetulan
pada kesempatan tersebut kelompok saya yang mendapat tugas untuk
mempersiapakan makalah untuk materi tersebut. Pada pertemuan tersebut, ada
beberapa tanggapan dari mahasiswa bahwa tindakan korupsi nampaknya sudah
mendarah daging didalam masyarakat tanpa kita sadari. Anak kecil pun secara tidak
sadar sudah diajarkan untuk melakukan suatu tindak kecurangan dengan kalimatkalimat
bohong yang diungkapkan orang tuanya. Tidak heran pada perkembangan
kedepannya sang anak mulai terbiasa melakukan kebohongan. Kebohongan yang
dibuat secara terus menerus merupakan suatu bibit yang akan membawa sang anak
pada tindak korupsi.
Pak Adib pun menyinggung tentang tindakan korupsi yang pada umumnya
dilakukan pada tahap mahasiswa. Seorang mahasiswa dihadapkan pada tantangan
untuk melakukan sebuah tindakan yaitu mencontek dan melakukan tindakan
plagiarisme. Banyaknya tugas yang diberikan oleh dosen dan kemudahan untuk
mengakses data serta informasi merupakan penyebab utama yang biasanya ditemukan. Karena banyaknya data-data yang ada di Internet, mahasiswa merasa
tidak ada salahnya untuk melakukan penjiplakan dari karya orang lain. Selain itu,
karena banyaknya karya yang ada di Internet, mahasiswa juga merasa tidak mungkin
para dosen mengetahuinya. Padahal, tanpa diketahui dosen juga bisa mengetahui yang
mana merupakan hasil dari plagiat dan yang mana yang bukan. Disadari atau tidak
oleh mahasiswa, sebenarnya tindak korupsi merupakan sebuah tindakan yang
melanggar hukum. Didalam dunia akademis plagiarisme dianggap sebagai sebuah
tindak kejahatan. Mengapa? Karena sama saja kita mengambil apa yang merupakan
milik orang lain tanpa diketahui oleh pemiliknya atau dengan kata lain palagiarisme
bisa disamakan dengan pencurian hak cipta.
Lalu, bagaimana sebaiknya cara untuk mencegah tindakan plagiarism yang
banyak terjadi? Seperti yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
RI no 17 tahun 2010 pasal 6 sampai dengan pasal 9 antara lain dibutuhkannya
pengawasan dari pihak perguruan tinggi, pengunggahan file karya ilmiah baik hasil
mahasiswa maupun dosen oleh pihak perguruan tinggi. Ketika hal-hal tersebut tidak
lagi dapat mencegah tindakan plagiarism, mungkin cara lainnya yang dapat
digunakan adalah membiarkan hukum yang berbiacara.
Sebenarnya menurut saya, cara yang paling efektif untuk menanggulangi
plagiarism adalah dengan menanamkan karakter yang baik semenjak dini, seperti
yang biasa dilakukan oleh pak Adib. Beliau dalam setiap pertemuan selalu berkata
“Indonesia harus lebih baik”. Menurut saya, beliau mengharapkan agar kami
mahasiswanya harus bisa membawa Indonesia kearah yang lebih baik. Ketika
karakter mahasiswa diarahkan kearah yang baik, maka mahasiswa tidak akan mudah
tergoda untuk melakukan tindakan menjiplak karya orang lain yang merupakan
langkah awal untuk melakukan tindakan menyimpang lainnya dimasa yang akan
dating seperti contohnya Korupsi. Selain itu pak Adib juga mencegah tindakan
plagiarism di kalangan mahasiswa dengan meminta mahasiswa untuk menyertakan
lembar pernyataan tidak plagiat disetiap tugas-tugas yang diberikannya.
Pada akhirnya saya dapat menyimpulkan bahwa, sebuah tindakan plagiarism
merupakan sebuah tindakan kejahatan yang pada umumnya terjadi pada kehidupan
mahasiswa dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Plagirisme juga
merupakan awal bagi para mahasiswa untuk bertindak menyimpang dikedepannya,
tidak menutup kemungkian karena sekarang sudah terbiasa merlakukan sesuatu yang
curang nanti pada kehidupan bekerja melakukan korupsi juga merupakan hal yang
biasa. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencegah plagiarism sejak dini, yaitu
antara lain dengan sarana mata ajar pendidika kewarganegaraan yang sudah ada sejak
kita SD. Selain itu penanaman karakter yang baik diperlukan dan sebaiknya dilakukan
oleh pihak-pihak yang berperan langusng dalam kehidupan anak, misalnya orang tua,
keluarga ataupun guru. Apalagi dalam tahapan kehidupan mahasiswa yang masih
mencari jati diri nya, pendidikan karakter benar-benar dibutuhkan, agar nantinya
kepribadian mahasiswa tersebut tidak gampang goyah dan tidak mudah terpengaruh
dengan hal-hal negative yang ditawarkan oleh dunia. Saran saya, mahasiswa sekarang
masih membutuhkan perbaikan baik dalam hard maupun soft skill serta
dibutuhkannnya kesadaran untuk tidak berbuathal-hal yang dapat merugikan diri
sendiri. Ketika akan melakukan Plagiarisme lebih berpikir dulu 1000 kali, jika masih
punya nyali, lakukan saja, dan biarkan alam dan hukum yang menjawab.
Referensi
http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/28/5-jenis-plagiarisme/
http://www.acehinstitute.org/id/pojok-publik/pendidikan/item/105-plagiatkejahatan-akademik.html
http://madib.blog.unair.ac.id/files/2012/12/permen_nomor_17_thn_2010_tent
ang_pencegahan_dan_penanggulangan_plagiat.pdf
http://www.acehinstitute.org/id/pojok-publik/pendidikan/item/105-plagiatkejahatan-akademik.html
Post a Comment